Selasa, 22 November 2016

Jepang dan Negara-Negara Industri Baru : Makna Global Jepang



MAKNA GLOBAL JEPANG

          Kata global mengandung dua makna, yaitu:
1.    Kata lain untuk ‘seluruh dunia’
2.    Sesuatu yang baru dengan cepat diciptakan oleh kekuatan sejarah baru.

        Focus utama dari makna global Jepang adalah berdasarkan pada kebijakan luar negeri Jepang Modern dari Restorasi Meiji 1868 hingga sekarang. Mengingat rentang waktu yang lama, untuk tujuan sejarah heuristic Jepang yang modern akan dibagi ke dalam 5 periode, yaitu:   
  1. Periode membangun Jepang modern : dari Restorasi Meiji awal abad 20 (akhir dari perang Russo Jepang 1904-5). 
  2. Periode mengkonsolidasikan Jepang modern: awal abad 20 – akhir 1920an pada awal periode Showa (1925-30). Fitur demokratisasi, industrialisasi, dan peningkatan posisi Jepang di komunitas internasional.
  3. Periode mencari status kekuatan besar: awal 1930an – akhir Perang Dunia II. Jepang berkomitmen dalam periode ini untuk serangkaian konflik bersenjata: insiden Manchurian, perang dengan China dan perang Pasifik.
  4. Periode membangun Jepang modern yang lain: sejarah Jepang paska perang diwarnai oleh perkembangan ekonomi dengan kecepatan tinggi serta menyusutnya peran Jepang dalam politik dunia. Fitur paska perang Jepang ini dapat menjadi diringkas sebagai raksasa ekonomi, pigmy politik. 
  5. Periode perubahan laut: akhir 1980an hingga kini, menunjukkan kurangnya adaptasi model paska perang Jepang untuk dunia global cepat. Dalam politik, walaupun system politik lama runtuh, ketidakstabilan politik berlanjut dan sebuah system politik baru belum didirikan. Di ekonomi, ketidakcocokkan antara model ekonomi Jepang paska perang dan globalisasi ekonomi telah menjadi semakin jelas.

Seiring waktu didukung oleh globalisasi, Jepang menjadi kekuatan regional. Masa-masa Jepang ketika perang dan setelah perang, telah membuat Jepang bertransformasi baik dari segi ekonomi maupun politik. Transformasi jepang dari masa ke masa khususnya dalam bidang politik juga mempengaruhi pengambilan kebijakan dalam negeri atau pun kebijakan luar negeri Jepang. Salah satunya, ketika perang Teluk, Jepang memposisikan dirinya sebagai kekuatan regional yang memiliki tanggung jawab internasional yaitu menjalankan tugas alami Negara oleh komunitas internasional. Pada kebijakan pertahanan, ia bertujuan membangun kekuatan PBB dan partisipasi pasukan Jepang (terpisah dari SDF sekarang) di dalamnya. Jepang ketika itu tidak menggunakan perspektif keamanan dan perdamaian internasional di Timur Tengah, melainkan perspektif kebijakan luar negeri Jepang yang berfokus pada pertahanan. 

 Jepang memiliki variasi kode di tiap periode sejarahnya. Bagaimanapun, politik local Jepang di era globalisasi telah menunjukkan tanda-tanda disonansi di kunci tradisional ini. Meskipun pemerintah local dan LSM local belum memainkan peran yang berpengaruh sebagai actor yang mengglobal, kegiatan mereka memiliki potensi untuk mengubah pemahaman globalisasi dari perspektif global. 

Sejak akhir 1980an beberapa pemerintah daerah telah menganjurkan “berpikir global, bertindak local”. Terlepas dari upaya ini, aktivitas warga di komunitas local belum kuat. Dalam hal ini, sejumlah aktivis politik telah memperhatikan pentingnya demokrasi local. Tanpa komitmen demokrasi yang kuat dengan masyarakat setempat, sulit untuk bertindak secara local dan berpikir seccara global. Tugas penting berikutnya bagi demokrasi Jepang adalah untuk membangun hubungan segitiga antara demokrasi, globalisme, dan lokalisme di tingkat local untuk menemukan alternative, globalisasi demokratis di tempat neo-liberal saat ini dan globalisasi tidak terkendali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar