Selasa, 22 November 2016

Keamanan non tradisional: contoh Keamanan Lingkungan

 

         Berbeda dari sebelumnya yaitu hingga pada masa Perang Dingin, masalah-masalah internasional yang muncul cenderung pada isu high politics (kedaulatan, keamanan, militer bahkan perang). Namun, seiring perkembangan jaman karena adanya globalisasi yang menyebabkan interaksi telah mencakup lintas batas Negara serta majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah-masalah internasional kini cenderung pada isu low politics. Keamanan pun memiliki arti yang lebih luas, tidak hanya berbicara keamanan tradisional (yang bersifat militer), tetapi juga berbicara keamanan non tradisional seperti salah satunya yaitu keamanan lingkungan. 

            Keamanan lingkungan menjadi penting dalam pembahasan masalah-masalah internasional kini, sebab disebutkan oleh T. May Rudi pada bukunya “Hubungan Internasional dan Masalah-Masalah Global” dalam menjalani kehidupan manusia sangat bergantung pada alam (T. May Rudi,  2003: 91). Didukung dengan pesatnya kemajuan teknologi serta berkembangnya pengetahuan manusia, hal ini tidak selalu dimanfaatkan dengan bijak oleh manusia. Contoh dari kemajuan teknologi adalah terciptanya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. 

Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apa pun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti… (www.batan.go.id). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Online, Nuklir adalah berhubungan dengan atau menggunakan inti atau energi (tenaga) atom.

Gambar    1 (www.bbc.com/indonesia/dunia)

Inti atom menyimpan tenaga yang luar biasa besar yang dapat menunjang kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Contoh satu gram U-235 (salah satu bahan radio aktif pembentuk nuklir) dapat dipakai untuk mensuplai kebutuhan listrik pesawat televise selama lebih dari 15 tahun, dengan asumsi pesawat TV tersebut hanya dinyalakan selama 12 jam perhari. Bahkan dengan perhitungan yang sama, satu gram U-235 dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik pada suatu rumah tangga dengan daya 900 watt, (saya sedang untuk ukuran rumah tangga, dengan asumsi pemakaian maksimum selama 12 jam perhari) selama lebih dari satu setengah tahun.

Melihat besarnya energy yang dapat dihasilkan oleh energy nuklir, maka timbul keinginan manusia untuk memanfaatkan energy tersebut. Kini, energi nuklir telah dimanfaatkan manusia untuk menggerakkan kapal selam, sumber energy pada wahana ruang angkasa dan kebutuhan listrik bagi rumah tangga (T.May Rudi, 2003: 103-104).

Kurang bijaknya manusia mengendalikan atau menempatkan tenaga nuklir, tidak jarang akan membawa dampak pada kebocoran nuklir yang akan mengancam suatu wilayah bahkan dunia. Seperti kebocoran nuklir yang terjadi di Fukushima, Jepang yang terjadi berulang-ulang hingga tahun lalu menjadi sebuah isu dilemma keamanan baru (new security dilemma) bagi Negara-negara di dunia yaitu keamanan lingkungan dan human security.

Radiasi kerap kali terjadi akibat kebocoran nuklir. Berikut ini merupakan beberapa efek radiasi yang merugikan dapat dilihat langsung terhadap:
1.      Tubuh manusia, seperti kerontokan rambut dan kerusakan kulit. Para ahli biologi pun memastikan bahwa efek radiasi dapat menimbulkan kerusakan somantik berupa kerrusakan sel-sel jaringan tubuh yang memberi peluang timbulnya kanker dan kerrusakan genetika berupa mutase sel-sel reproduksi sehingga memberi peluang terjadinya cacat pada keturunan.
2.      Limbah radio aktif merupakan hasil samping dari kegiatan manusia dalam pemanfaatan teknologi nuklir yang tidak dapat dipakai atau didaur ulang. Apabila limbah ini terbuang atau terlepas langsung ke lingkungan maka seluruh organisme yang ada di muka bumi ini akan punah, karena efek radiasi yang ditimbulkannya (T.May Rudi, 2003: 105-106).

Seperti yang dilansir pada www.news.liputan6.com, beberapa masalah PLTN Fukushima sebelumnya yaitu:
9 Oktober 2013: Enam pekerja tersiram air radioaktif
7 Oktober 2013: Seorang pekerja PLTN tak sengaja mematikan listrik ke pompa yang digunakan untuk pendinginan reaktor yang rusak
3 Oktober 2013: Tepco mengatakan ada kebocoran air radioaktif setelah pekerja kepenuhan mengisi tangki penyimpanan
21 Agustus 2013: Badan Nuklir Jepang meningkatkan status siaga Fukushima
20 Agustus 2013: Tepco mengatakan 300 ton air radioaktif telah bocor dari tangki penyimpanan ke dalam tanah
Juli 2013: Tepco untuk pertama kalinya mengakui air radioaktif mengalir ke laut
Juni 2013: Tepco mengatakan air radioaktif bocor dari tangki penyimpanan ke tanah
April 2013: Tepco menduga kebocoran air radioaktif di Fukushima
Maret 2013: Tepco menduga hewan pengerat mungkin berada di balik pemadaman listrik yang mematikan sistem pendingin 

Hingga Februari 2014, kebocoran nuklir kembali terjadi sebab kelalaian Sumber Daya Manusianya. Namun sepanjang tahun tersebut, yang paling parah adalah ketika kebocoran nuklir pada tahun 2011 yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami hingga mendorong badan nuklir Jepang menaikkan tingkat siaga. 

Berbahayanya ancaman kebocoran nuklir pada lingkungan hidup hingga makhluk hidup telah menyita perhatian dunia internasional. Oleh karena itu, Jepang berencana membangun dinding es untuk memblokir radiasi nuklir seperti yang terlansir pada www.tekno.tempo.co, melihat dampaknya telah meluas yaitu kebocoran nuklir Fukushima akan capai Amerika, dan tangki nuklir Fukushima telah cemari laut Pasifik. Selain itu, langkah-langkah dibawah ini merupakan yang harus dilaksanakan Jepang guna menanggulangi insiden kebocoran nuklir tersebut, yaitu:

           

Gambar 2 (www. tekno.tempo.co)

  1. Kebijakan Energi Baru : Dorongan publik untuk meninjau kembali kebijakan energi nuklir Jepang terkait dengan sistem keselamatannya, menyebabkan hilangnya pasokan listrik dari 54 PLTN yang seharusnya beroperasi, setara dengan 30% kebutuhan listrik keseluruhan atau sebesar 47,5 GWe. Hal ini mendorong pemerintah untuk segera merevisi kebijakan energi yang ditargetkan selesai pada pertengahan 2012 ini. Langkah-langkah yang akan diambil, berkaitan dengan sisi penyediaan maupun penggunaan energi, dengan upaya pengetatan pencapaian target-target perencanaan energyang telah digariskan sebelumnya. 
  2. Sisi Penggunaan : Dari sisi penggunaan, kekurangan pasokan listrik di awal-awal periode pasca bencana, membuat pemerintah memberlakukan pemadaman bergilir. Pemerintah mendorong masyarakat umum untuk mengurangi atau menghemat konsumsi listriknya (a Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir V, 2012 Pusat Pengembangan Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional ISSN 1979-1208 35 new culture of energy consumption). Program ini sudah dimulai sejak 1 Juli 2011 dengan target mampu menurunkan konsumsi listrik hingga 15%. Khusus untuk sektor rumah tangga dan perkantoran dirancang konsep net-zero-energy houses untuk membangun suatu rumah atau bangunan perkantoran yang mampu menghasilkan energi untuk kebutuhan konsumsinya masing-masing. Masyarakat juga dianjurkan untuk menggunakan peralatan rumah tangga maupun elektronik, seperti pemanas air, air conditioner, dan lampu LED yang hemat energi. Secara kebijakan ditetapkan pula Law on Special Measures Concerning Procurement of Renewable Energy Source Electricity by Electric utilities untuk mempercepat program ini. Sementara di sektor bisnis dan industri, pemerintah mendorong program ”Cool Biz” and ”No Overtime Day” untuk menekan konsumsi listrik. Di samping itu, pemerintah juga mengupayakan penggunaan energi terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan, dengan memberikan insentif maupun subsidi bagi rumah tangga (eco-house) atau sektor usaha (ecobuisness) yang mengaplikasikan teknologi energi terbarukan. Untuk sektor transportasi, pemerintah terus mengembangkan kendaraan generasi masa depan bertenaga listrik. Hal ini dilakukan untuk menghemat bahan bakar minyak, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari proses pembakaran bahan bakar fosil. 
  3. Sisi Penyediaan Energi : Pada sisi penyediaan energi dalam jangka pendek, maka optimalisasi pembangkit listrik berbasis minyak bumi dan gas ditingkatkan. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan pasokan bahan bakar yang bertambah sehingga impor minyak bumi dari Timur Tengah dinaikkan dari 110.000 menjadi 140.000 barrel per hari (naik 4%), sedangkan impor gas naik 10% . Meskipun dorongan publik menginginkan diakhirinya program nuklir, akan tetapi secara realistis hal ini tentu saja tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Paling tidak dibutuhkan tahap-tahap peralihan untuk menggantikan posisi energi nuklir dalam waktu cukup panjang agar kondisi sosial ekonomi dan lingkungan hidup tidak terguncang. Dengan langkah penghematan konsumsi energi hingga mencapai 50% dari kondisi saat ini, maka kebutuhan 50% sisanya dapat dipenuhi dari pemanfaatan gas alam (25-30%), minyak bumi (10-15%), batubara (10-15%), dan setengah sisanya dari energi terbarukan. Dengan dominasi energi terbarukan, emisi gas rumah kaca dapat ditekan, bahkan diturunkan sesuai dengan program yang telah direncanakan. Hal ini diharapkan dapat tercapai pada 2030. Meskipun kontribusi energi terbarukan saat ini masih sangat rendah dikarenakan secara ekonomi harganya memang masih sangat mahal, akan tetapi dengan tuntutan pengurangan energi nuklir, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup, serta pertumbuhan ekonomi yang meningkat, maka bukan tidak mungkin energi terbarukan akan menjadi pilihan utama. Selama ini perkembangan pemanfaatan energi terbarukan masih relatif lambat, dikarenakan investasi dan nilai jual listrik memang masih tinggi. Insiden Fukushima merupakan pemicu utama sekaligus titik balik kebangkitan energi terbarukan. Dengan peningkatan alokasi dana, komitmen, dukungan infrastruktur maupun kebijakan regulasi, penggunaan energi terbarukan akan terus meningkat dan harganya akan menjadi semakin kompetitif.
            Insiden Fukushima menimbulkan dampak kepada publik, diantaranya isu keselamatan, gangguan penyediaan listrik, serta resistensi masyarakat terhadap program nuklir yang telah direncanakan. Kebijakan energi memadukan kebijakan konservasi di sisi penggunaan energi dan diversifikasi sumber energi di sisi penyediaan. Perencanaan energi di masa depan dilakukan dengan pengurangan proporsi energi konvensional dan nuklir, serta meningkatkan kontribusi energi terbarukan. Diversifikasi sumber energi yang berimbang terhadap semua sumber energi akan menghasilkan bauran energi yang berimbang dan tidak rentan terhadap potensi gangguan eksternal, seperti bencana alam dan instabilitas sosial, ekonomi, dan politik nasional maupun global (digilib.batan.go.id).


DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Rudi, Teuku May. 2003. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-Masalah Global: Isu, Konsep, Teori, dan Paradigma. Bandung. Refika Aditama: 2003

WEBSITE:
http://news.liputan6.com/read/833038/radioaktif-dari-pltn-fukushima-jepang-bocor-lagi http://tekno.tempo.co/read/news/2014/05/28/061580772/jepang-bangun-dinding-es-blokir-radiasi-nuklir
digilib.batan.go.id/.../1979-1208-2012-027_A04_NANANG_TRIAGUN...
Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir V, 2012: Pusat Pengembangan Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar